Enek wali liwat

Pagi jam 4.21 ada SMS dari ibuku yang menanyakan bagaimana kabarku. Setelah aku jawab SMS itu, tidak berselang lama datang lagi SMS ibuku dengan kalimat pembuka: “ojo ngomong ngono nek ono wali liwat lho”.

Kalimat itu sungguh menggelitik dan menginspirasiku untuk membuat tulisan ini. Dalam khasanah bahasa Jawa, jika kita berucap tentang diri kita maupun tentang orang lain yang berkonotasi negatif; biasanya orang yang mendengar akan menegur dan mengingatkan supaya kita tidak berucap seperti itu. Teguran itu biasanya diakhiri dengan kalimat: “nek enek wali liwat”. Terjemahan dalam bahasa Indonesianya adalah: “jika ada wali lewat”.

Siapakah wali yang dimaksud? Apakah ada kaitan wali lewat dengan ucapan kita? Apakah wali yang lewat tersebut membuat ucapan kita menjadi terjelma? Tentu saja pertanyaan-pertanyaan itu menjadi wajar untuk disampaikan, namun mungkin tidak ada seorangpun yang bisa menjawabnya jika pertanyaan tersebut dijawab secara apa adanya. Menurut saya, pertanyaan itu bisa dijawab jika dipahami dari filosofinya.

Kembali kepada SMS sebelumnya: “ojo ngomong ngono nek ono wali liwat lho”. Kalimat itu dalam bahasa Indonesia maksudnya adalah “jangan ngomong seperti itu kalau ada wali lewat”. Filosofi dari kalimat itu adalah jangan berucap sembarangan. Kenapa kita tidak boleh berucap sembarangan? Jawabannya sederhana, karena setiap ucapan adalah doa. Rasulullah SAW bersabda: ”kullu kalam addu’a”, yang artinya: “setiap perkataan itu merupakan do’a”.

Setiap kita berucap, entah itu ucapan yang baik atau pun ucapan yang tidak baik; maka ucapan itu merupakan doa. Jika kita berucap tentang diri kita, maka ucapan itu adalah doa kita bagi diri kita sendiri; sebaliknya jika kita berucap tentang orang lain, maka ucapan itu adalah doa kita bagi orang lain. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk berhati-hati dalam berucap, sebagaimana dimaksud dalam firman Allah Ta’aala: ”Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)” (Al-Israa [17]: 53a). Dalam Surat Al Baqarah (2): 263: “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”. Sedangkan dalam Surat Fathir (35): 10b: “Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya”.

Ucapan adalah doa, maka berucaplah yang baik untuk diri kita, untuk istri, anak, orang tua, dan untuk saudara-saudara kita; karena doa kita pasti akan dikabulkan, sebagaimana dalam Surat Al Mu”min (40) ayat 60: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina“. Dalam Surat Al Baqoroh (2) ayat 186:Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s