Tumbak Cucukan

Sepulang dari kampus, saya merebahkan diri sejenak di tempat tidur sambil menonton acara di TV. Kebetulan pas saat itu ada sinetron yang menceritakan tentang tabiat seseorang yang suka menceritakan permasalahan orang lain ke orang lainnya…. bingung ya? Hehe… maksudnya gimana dipikir sendiri aja ya…. hehe..

Entah mengapa saat itu langsung terbayang dibenakku satu istilah bahasa Jawa; mungkin tepatnya bahasa Cepu; yaitu “tumbak cucukan”. Istilah ini bisa dimaknai dalam bahasa Jawa secara umum sebagai “wadulan”, dalam bahasa Sunda diistilahkan dengan “aduan”, dan dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan “tattle-tale”. Definisi sederhananya kira-kira “menceritakan atau mengadukan tentang seseorang kepada orang lain”.  Istilah tumbak cucukan inilah yang menginspirasiku untuk membuat tulisan ini.

Dalam Wikipedia ada yang menulis definisi mengenai tumbak cucukan sebagai berikut: “Tumbak cucukan iku wong sing seneng wadulan. Éwa semono wadulé waton wadul malah kepara seneng yèn wadulané mau ndadèkaké perkara gedhé. Hahaha… sukurin yang bukan orang Jawa pasti pusing tujuh keliling mengartikan kalimat itu. Cari sendiri aja artinya ya Sob… hehe… Males? Oke lah kalo beg… beg… begitu saya coba artiin. Kira-kira artinya seperti ini: “Tumbak cucukan itu orang yang senang mengadu. Mengadunya kadang suka asal bahkan akan merasa senang jika pengaduannya itu menimbulkan masalah yang besar”.

Tumbak cucukan ini sebenarnya bisa berdampak ganda, yaitu apabila yang diomongkan itu benar maka termasuk ghibah (bergunjing). Di sisi lain, apabila yang diomongkan itu salah maka selain termasuk ghibah juga buhtan (dusta). Bahkan ada kemungkinan bisa menjadi fitnah.

Arti ghibah adalah membicarakan orang lain yang tidak ada di tempat dengan sesuatu yang dibencinya meskipun yang dibicarakan itu benar adanya. Ghibah termasuk dalam kategori dosa besar, dan dikiaskan dengan sesuatu yang menjijikkan sehingga kaum muslimin akan menjauhinya. Allah SWT berfirman:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.  Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.  Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat: 12)

Di dalam ayat tersebut dijelaskan pemisalan orang yang berghibah seperti orang yang memakan daging saudaranya yang sudah mati. Daging seseorang yang sudah mati bisa disebut sebagai bangkai, jadi di situ diandaikan seseorang memakan bangkai saudaranya. Memakan bangkai adalah suatu tindakan yang menjijikkan, apalagi bangkai itu adalah bangkai dari saudaranya sendiri. Sungguh suatu tindakan yang menjijikkan dan ekspresi sifat tega yang luar biasa.

Sebagaimana sudah disinggung di atas, bahwa apabila yang diomongkan itu salah maka ada dua kejelekan yang sudah dilakukan, yaitu ghibah dan dusta. Pengertian dusta tentu sobat-sobat semua sudah mengetahuinya. Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud ra, Rasulullah SAW bersabda:

عليكم بالصدق فان الصدق يهدي الى البر وان البر يهدي الى الجنة وما يزال الرجل يصدق ويتحرى الصدق حتى يكتب عند الله صديقا
واياكم والكذب فان الكذب يهدي الى الفجور وان الفجور يهدي الى النار وما يزال الرجل يكذب ويتحر الكذب حتى يكتب عند الله كذابا

“Berpeganglah kalian kepada kejujuran, karena itu akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Senantiasa seorang hamba berbuat jujur dan membiasakan sifat ini hingga dia dicatat di sisi Allah ta’ala sebagai seorang yang jujur. Berhati-hatilah kalian dari dusta, karena dusta itu akan membimbing kepada kejahatan, dan kejahatan itu akan membimbing ke neraka. Senantiasa seorang hamba berdusta dan membiasakannya hingga dicatat di sisi Allah ta’ala sebagai seorang pendusta”.

Dalam hadits itu disebutkan bahwa kejujuran akan membimbing kepada kebaikan, sedangkan dusta akan membimbing kepada kejahatan. Sebagian orang dewasa ini sering mempelesetkan kata jujur dengan “jujur kacang ijo” dan sebagainya. Bila itu dimaknai sebagai candaan tidak lah bermasalah, namun akan menjadi masalah jika candaan itu ditengarai sebagai kiat untuk menghindar dari tuntutan berkata jujur.

Dusta akan membawa kepada kejahatan, ini mempunyai makna yang sangat mendalam. Sekarang ini bisa kita lihat dan dengar; baik secara langsung maupun melalui media; bagaimana dusta pada akhirnya akan membawa ketidakbaikan bagi pendusta maupun bagi orang yang didustakan. Kasus-kasus pertikaian, persengketaan, perselisihan, kecurigaan, syak wasangka, dan sebagainya; yang kesemuanya bermuara pada putusnya tali silaturahim; bisa disebabkan oleh dusta.

Bahasan inti dari tulisan ini sebenarnya adalah menutupi aib seseorang. Aib bisa didefisinikan sebagai malu; namun dalam konteks tulisan ini, aib didefinisikan sebagai cela, noda, salah, maupun keliru. Ada beberapa hadits yang menjelaskan mengenai masalah aib ini, misalnya:

(1)      Abu Hurairah ra berkata bahwa Nabi SAW bersabda:
لَايَسْتُرُعَبْدٌعَبْدًافِيالدُّنْيَاإِلَّاسَتَرَهُاللَّهُيَوْمَالْقِيَامَةِ
“Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba lainnya di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak”.  (HR. Muslim no. 2590).

(2)      Abdullah bin Umar ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
الْمُسْلِمُأَخُوالْمُسْلِمِلَايَظْلِمُهُوَلَايُسْلِمُهُمَنْكَانَفِيحَاجَةِأَخِيهِكَانَاللَّهُفِيحَاجَتِهِوَمَنْفَرَّجَعَنْمُسْلِمٍكُرْبَةًفَرَّجَاللَّهُعَنْهُبِهَاكُرْبَةًمِنْكُرَبِيَوْمِالْقِيَامَةِوَمَنْسَتَرَمُسْلِمًاسَتَرَهُاللَّهُيَوْمَالْقِيَامَةِ
“Seorang muslim dengan muslim yang lain adalah bersaudara, dia tidak boleh berbuat zalim dan aniaya kepada saudaranya. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barang siapa yang membebaskan seorang muslim dari suatu kesulitan, maka Allah akan membebaskannya dari kesulitan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat kelak”. (HR. Muslim no. 2850).

(3)      Ibnu Umar ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
يَامَعْشَرَمَنْأَسْلَمَبِلِسَانِهِوَلَمْيُفْضِالْإِيمَانُإِلَىقَلْبِهِلَاتُؤْذُواالْمُسْلِمِينَوَلَاتُعَيِّرُوهُمْوَلَاتَتَّبِعُواعَوْرَاتِهِمْفَإِنَّهُمَنْتَتَبَّعَعَوْرَةَأَخِيهِالْمُسْلِمِتَتَبَّعَاللَّهُعَوْرَتَهُوَمَنْتَتَبَّعَاللَّهُعَوْرَتَهُيَفْضَحْهُوَلَوْفِيجَوْفِرَحْلِهِ
“Wahai sekalian orang yang hanya ber-Islam dengan lisannya; namun keimanan belum tertancap di dalam hatinya; janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, jangan pula kalian memperolok mereka, dan jangan pula kalian menelusuri, mencari-cari aib mereka. Barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya niscaya Allah akan mencari-cari aibnya, dan barang siapa yang aibnya dicari-cari oleh Allah niscaya Allah akan mempermalukan dia meskipun dia berada di dalam rumahnya sendiri”. (HR. Abu Daud no. 4236 dan At-Tirmizi no. 2032).

Hadits di atas jelas menunjukkan adanya perintah untuk menutupi aib orang lain, meskipun mungkin aib itu benar adanya, benar faktanya, dan benar kejadiannya. Memang watak dasar dari manusia adalah insan yang penuh dengan kelemahan, sehingga terkadang tanpa sadar menceritakan aib seseorang kepada yang lainnya. Namun sungguh akan menjadi suatu ironi manakala seseorang dengan sadar menceritakan aib seseorang kepada yang lainnya. Tanpa disadari, penyakit hati telah menghinggapinya dan membuatnya terlena.

Ada sebuah hadits yang mengemukakan tentang masalah hati, yaitu: ”Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad itu terdapat segumpal daging, yang apabila segumpal daging itu baik maka baik lah seluruh jasadnya, dan apabila segumpal darah itu rusak maka rusak lah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati“. (HR. Bukhari dan Muslim).

Tulisan ini sejujurnya merupakan bahan introspeksi bagi diri penulis sendiri karena penulis adalah insan yang dipenuhi dengan kelemahan, kealpaan, kelalaian dan ketidakberdayaan. Penulis hanyalah sebutir debu dalam bentang alam raya ini.

“Allahuma inni a’udzubika minal hammi wal hazan, wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’udzubika minal jubni wal bukhli, wa a’udzubika min ghalabatid daini wa qahrir rijaal”

“Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari rasa sedih dan duka, aku berlindung kepada Mu dari sifat lemah dan malas, dan aku berlindung kepada Mu dari sifat penakut dan kikir, dan aku berlindung kepada Mu dari beban hutang dan penindasan orang”. (HR. Abu Dawud).

7 responses to “Tumbak Cucukan

  1. hehehe… gak sadar sih kadang.. kadang maksud awalnya curhat.. masa kalo curhat masuk kategori ini juga?

  2. Nisya: ada 6 jenis ghibah yang diperbolehkan, silakan di-search sendiri ya… matur nuwun sudah sudi mampir dan memberikan komennya..

  3. Alhamdulillaah..udah nulis lagi..
    Makasiih pencerahannya…..

  4. Kelip Noor: Alhamdulillaah… sama2… makasih sudah berkunjung..

  5. waduh,,,, jadi ustadz juga pak…??? hehe
    bermanfaat banget, mudah2n menjadi pelajaran bagi orang-orang yang demikian (yang suka gibah) agar menjadi sadar….

  6. yan yan hidayat

    Hal yang mungkin saya sendiri jarang sadari…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s