Permainan Pikiran

Perkembangan ilmu sekarang ini luar biasa pesatnya, termasuk ilmu dalam memaksimalkan kerja otak manusia. Dahulu orang sering mengibaratkan otak manusia dengan pisau, semakin diasah (belajar) maka akan semakin tajam (pintar). Semakin banyak membaca, maka akan semakin banyak pula ingatan yang tertanam. Memang demikianlah adanya, otak adalah flashdisc yang bisa menyimpan berjuta-juta gyga file, jauh lebih banyak dari flashdisc apapun yang bisa diciptakan manusia. Jadi alangkah sayangnya jika kita tidak mengoptimalkan anugerah yang luar biasa itu.

Dalam perkembangannya, berbagai pemikiran muncul mengenai cara memaksimalkan otak manusia. Ada pemikiran mengenai bagaimana mengoptimalkan kerja otak kiri, dan sekarang ini muncul pemikiran bagaimana memaksimalkan kerja otak kanan. Namun saya tidak akan membahas mengenai hal itu, karena kurangnya pemahaman saya tentang itu.

Di sini saya akan mencoba membahas mengenai bagaimana manusia seringkali sibuk dengan pemikiran yang ada di otaknya. Manusia seringkali terjebak dengan permainan pikirannya sendiri sehingga nyaris tidak ada yang dilakukan maupun tidak ada yang dihasilkan.

Kita ingat kala kita belajar naik sepeda. Ada orang yang langsung belajar dengan cara menaiki sepedanya tanpa berpikir bagaimana nantinya. Ada juga orang yang berpikir sejenak bagaimana nantinya namun cepat memutuskan untuk belajar langsung menaiki sepedanya. Ada juga orang yang relatif lama berproses dalam pemikirannya: “Seandainya jatuh bagaimana? Seandainya menabrak pagar orang lain bagaimana? Seandainya berpapasan dengan orang maupun kendaraan bermotor bagaimana?”. Pertanyaan mengenai seandainya dan seandainya terus yang muncul dalam pemikirannya. Ini lah orang yang terperangkap dalam pikirannya atau orang yang asyik bermain dengan pikirannya.

Sebagian mahasiswa tingkat akhir juga terperangkap pada pola yang sama seperti itu. Mereka bingung, resah, dan bermain dengan pikirannya: “Apakah saya mampu menyusun proposal penelitian? Langkah awal apa kah yang harus saya lakukan dalam menyusun proposal penelitian? Kemanakah saya harus mencari literatur? Bagaimana cara meramu sekian literatur sehingga bisa menjadi proposal penelitian?”. Dan masih banyak pertanyaan lain yang menyeruak dalam pemikirannya.

Permainan pikiran tanpa ada tindakan hanya akan menambah beban pada pikiran. Ini lah yang mungkin menyebabkan manusia mengalami stress, depresi dan sebagainya. Pada akhirnya kita harus segera sadar dan beranjak ke luar dari permainan pikiran itu. Sudahi permainan pikiran, jejakkan langkah ke bumi, LAKUKANLAH APAPUN YANG BISA KAMU LAKUKAN, maka di sana akan ada jawaban dan solusinya…

6 responses to “Permainan Pikiran

  1. setuju, ketika kita hanya berpikir dan berpikir saja tanpa ada tindakan, maka hasilnya bisa dikatakan nol (0) besar, mari mulai dari saat yang bisa kamu lakukan, maka lakukanlah semampumu.

  2. oke,,, kapan-kapan saya kerumah…

  3. ini namanya terlalu khawatir dengan sesuatu yang belum tentu ,.. hehhe… kaya mengharap uang hadiah.. mau dibelikan ini itu… orang uangnya aja belom ada.. hehehe.*garink ya*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s