Ilmu yang bermanfaat

Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara. yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Jelaslah dari hadits tersebut bahwa salah satu amalan yang tetap akan mengalir pahalanya meskipun orangnya sudah meninggalkan dunia yang fana ini adalah ilmu yang bermanfaat. Lantas apakah yang dimaksud dengan ilmu yang bermanfaat itu? Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bermanfaat bagi orang lain dalam menuju ketaqwaan kepada Allah, bukan ilmu yang menuju kefasikan. Jadi jelas bahwa ilmu yang bermanfaat itu mempunyai dua dimensi, yaitu bermanfaat bagi orang lain dan ditujukan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada-Nya.

Sebelum seseorang bisa memiliki ilmu yang dapat bermanfaat bagi orang lain, tentunya dia harus menuntut ilmu itu terlebih dahulu. Dalam kaitannya dengan kegiatan menuntut ilmu tersebut, Al-Ghazali mengingatkan bahwa seseorang hendaknya menuntut ilmu tidak hanya sekedar kebutuhan melainkan harus sampai tuntas hingga sampai pada hakekat ilmu tersebut. Karena hanya dengan hakekat ilmu itulah seseorang akan mencapai suatu tingkat penyingkapan akan rahasia dan kebesaran Sang Maha Pencipta. Rasulullah bersabda:” Barangsiapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah petunjuknya, maka ia akan bertambah jauh dari Allah.”

Setelah kegiatan menuntut ilmu itu terlewati, atau dengan kata lain ilmu tersebut telah terkuasai dengan baik, maka seseorang diharapkan dapat mengajarkan atau memanfaatkan ilmu tersebut untuk kemaslahatan orang lain. Mengapa saya menyatakan “diharapkan”? Pernyataan ini didasari oleh kenyataan bahwa tidak semua orang mau berbagi ilmu dengan orang lain, juga mau memanfaatkan ilmu untuk kemaslahatan orang lain. Mungkin orang-orang seperti ini mempunyai kekuatiran jika dia membagi ilmunya kepada orang lain, maka orang lain tersebut bisa menjadi pintar seperti dia atau bahkan melebihinya. Mungkin juga dia merasa rugi harus berbagi ilmu sementara dia mendapatkan ilmu tersebut dengan bercucuran keringat dan air mata, serta mengeluarkan materi yang tidak sedikit.

Sesungguhnya orang yang sadar tentang manfaat mengajarkan ilmu kepada orang lain akan  berbondong-bondong mengajarkan ilmu yang dimilikinya. Ia tidak akan kikir terhadap ilmu yang dimilikinya dan akan bergembira ketika melihat orang lain keluar dari lingkaran kebodohan.

Rasulullah saw bersabda: “Allah senang terhadap orang yang belajar, namun lebih senang terhadap orang yang belajar dan mengajarkannya”. Dalam hadits lainnya Rasulullah saw bersabda:

Ta’allamuu minal’ilmi maasyi’tum fawaallaahi laa tuu’jaruuna bijam’il ‘ilmi hatta ta’maluu”.

yang artinya :”Pelajarilah ilmu yang kalian kehendaki. Demi Allah, kalian tidak akan mendapat pahala karena berhasil mengumpulkan ilmu sebelum kalian mengamalkannya”.

Selain itu, mungkin dalam kehidupan kefanaan ini ada sebagian orang yang berpendapat cukuplah orang lain belajar ilmu dari dia, tidak perlu mencari ilmu dari yang lain. Atau mungkin bahkan ada orang yang melarang orang lain untuk belajar ilmu kepada selain dirinya. Jika orang yang berpandangan seperti ini ada, mungkin dia merasa bahwa dia telah menguasai semua ilmu sehingga cukuplah orang lain belajar padanya. Mungkin juga dia mempunyai ego yang tinggi sehingga merasa terusik hatinya jika ada yang belajar kepada selain dirinya. Atau bahkan mungkin dia merasa lebih pandai, lebih mumpuni, dan lebih menguasai ilmu dibandingkan dengan orang lain. Jika orang-orang seperti ini ada di dunia ini, mungkin mereka belum pernah mengenal istilah dalam dunia persilatan “di atas langit masih ada langit”.  Semoga kita dijauhkan dari sikap yang seperti ini, aamiin…

Dalam kaitannya dengan pemahaman terhadap ilmu dan dirinya sendiri, Al-Khalil bin Ahmad mengklasifikasi empat jenis manusia, yaitu: (1) Manusia yang tahu dan tahu bahwa ia tahu. Ia adalah alim, maka ikutilah, (2) Manusia yang tahu tetapi tidak tahu bahwa ia tahu. Ia adalah orang yang tertidur, maka bangunkanlah, (3) Manusia yang tidak tahu dan tahu bahwa ia tidak tahu. Ia adalah orang yang mencari bimbingan, maka ajarilah, dan (4) Manusia yang tidak tahu tetapi tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Ia adalah orang bodoh, maka waspadailah.

Apakah kita dapat melihat tanda-tanda seseorang mempunyai ilmu yang bermanfaat? Secara fisik kita dapat mengetahui seseorang mempunyai ilmu yang bermanfaat dengan tanda-tanda sebagai berikut:

  1. Orang yang bermanfaat ilmunya tidak peduli terhadap keadaan dan kedudukan dirinya serta hati mereka membenci pujian dari manusia, tidak menganggap dirinya suci, dan tidak sombong terhadap orang lain dengan ilmu yang dimilikinya.
  2. Pemilik ilmu yang bermanfaat, apabila ilmunya bertambah, bertambah pula sikap tawadhu, rasa takut, kehinaan, dan ketundukannya di hadapan Allah Ta’ala.
  3. Ilmu yang bermanfaat mengajak pemiliknya lari dari dunia, yang berupa kedudukan, ketenaran, dan pujian. Menjauhi hal itu dan bersungguh-sungguh dalam menjauhkannya, maka hal itu adalah tanda ilmu yang bermanfaat.
  4. Pemilik ilmu ini tidak mengaku-ngaku memiliki ilmu dan tidak berbangga dengannya terhadap seorang pun. Ia tidak menisbatkan kebodohan kepada seorang pun, kecuali seseorang yang jelas-jelas menyalahi Sunnah dan Ahlus Sunnah. Ia marah kepadanya karena Allah Ta’ala semata, bukan karena pribadinya, tidak pula bermaksud meninggikan kedudukan dirinya sendiri di atas seorang pun.

Sebagai penutup dari tulisan ini, ada baiknya kita renungkan sabda Rasulullah sebagaimana diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal:

Pelajarilah ilmu, sebab mencari ilmu karena Allah adalah kebaikan, menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah tasbih, mengkajinya adalah jihad dan mengajarkannya adalah sedekah. Dengan ilmu seorang hamba sampai pada kedudukan orang-orang baik dan tingkatan paling tinggi. Memikirkannya setara dengan berpuasa dan mengkajinya sama dengan menegakkan shalat. Dengannya Allah ditaati, disembah, di-Esa-kan dan ditakuti. Dengannya pula tali silaturahmi diikatkan. Ilmu adalah pemimpin dan pengamalan adalah pengikutnya. Dengannya Allah mengangkat bangsa-bangsa lalu Dia menjadikan mereka pemimpin, penghulu dan pemberi petunjuk pada kebajikan karena ilmu adalah kehidupan hati dari kebutaan, cahaya dari kezaliman dan kekuatan tubuh dari kelemahan.

Marilah kita memanjatkan doa kepada Illahi Rabbi, Sang Penguasa Ilmu: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak berguna, hati yang tidak pernah khusyu (tenang), doa yang yang tidak didengar dan dari nafsu yang tidak pernah puas”…aamiin…

One response to “Ilmu yang bermanfaat

  1. Ayo nulis terus ustadz wawan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s