(Tidak) Perlu Sombong

Sombong bisa muncul karena adanya dikotomi. Sebenarnya timbulnya sifat sombong itu sendiri bukan karena kesalahan adanya dikotomi, melainkan karena pemaknaan/penghargaan yang berlebih pada satu sisi dibandingkan dengan sisi yang lainnya. Dikotomi dalam kepemilikan materi (kaya dan miskin) dan penghargaan yang berlebih pada “kaya” dibandingkan “miskin”  bisa membuat orang tergelincir dan terperangkap pada sifat sombong.

Berbagai dikotomi bisa kita jumpai dalam keseharian kehidupan kita. Dalam hal jabatan maupun kekuasaan kita mengenal adanya dikotomi “pemimpin” dan “yang dipimpin”, “atasan” dan “bawahan”, “penguasa” dan “rakyat”. Dalam hal daya nalar kita mengenal adanya “cerdas/pandai/pintar” yang berseberangan dengan “bodoh/pandir/bloon/telmi”.

Mungkin dikotomi yang paling banyak bisa kita temukan yang berhubungan dengan badan, dan kadang ini pun dijadikan sebagai sandaran untuk bersifat sombong. Dikotomi ini bisa kita peroleh mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Misalnya dikotomi warna kulit (hitam dan putih), bentuk badan (langsing dan gemuk), wajah (cantik/ganteng dan jelek), hidung (mancung dan pesek), tinggi badan (tinggi dan pendek), dan masih banyak lagi dikotomi lainnya.

Pada kasus dikotomi ini harusnya orang menyadari bahwa dia tidak perlu sombong karena dia “mancung”, karena saat “pesek” hilang maka tidak ada lagi alasan lagi untuk sombong.

Sombong juga bisa muncul manakala orang tidak menyadari adanya sifat saling melengkapi. Tidak akan pernah ada sebutan presiden, gubernur, bupati, camat, bahkan kepala desa/lurah, jika tidak ada sebutan rakyat. Tidak akan pernah ada sebutan direktur, manajer, supervisor, jika tidak ada sebutan karyawan/buruh. Demikian pula tidak akan pernah ada sebutan rektor, dekan, ketua jurusan sampai ketua program studi jika tidak ada sebutan mahasiswa. Begitu juga sebaliknya.

Sifat sombong intinya karena merasa diri lebih dibanding dengan yang lainnya. Manakala pembanding itu tiada, maka tidak ada lagi sandaran yang bisa dijadikan pembenaran untuk bersifat sombong. Kita buka sekat yang membatasi kata “tidak“ pada kalimat “(tidak) perlu sombong”, sehingga kita paham bahwa kita “tidak perlu sombong”.

Suatu saat semuanya dari ada akan menjadi tiada, kecuali tiga hal yang terus mengalir: amal jariyah, anak yang sholeh dan ilmu yang bermanfaat. Hanya pada tiga hal ini lah kita boleh memberikan penghargaan yang berlebih… wallahu ‘alam bishowab..

One response to “(Tidak) Perlu Sombong

  1. sombong niyeeeeeee,.. hehehhee,.. orang menjadi sombong biasanya karena memandang dirinya terlalu tinggi.. semisal merasa pinter, kaya. sukses,. dsb dsb… padahal semua itu hanya label… selebihnya ya sama,. manusia biasa.. sifat manusia yg satu ini susah untuk dideteksi.. dan biasanya orang yg berlaku sombong itu juga kadang tidak menyadari kelakuannya itu… jadi sebenarnya kewajiban orang2 di sekitarnya untuk mengingatkan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s