Pentingkah sebuah rencana (niat) yang baik?

Sudah seminggu yang lalu aku rencanakan untuk berangkat ke Malang pada malam ini (29/10/2011), namun rencana tinggal lah rencana. Ada beberapa hal yang membuat rencana tersebut tertunda atau belum bisa aku laksanakan, namun demikian aku merasa tidak terlalu kecewa karena ada kegiatan produktif lain yang sudah aku kerjakan yang menyebabkan penundaan keberangkatan malam ini. Selain itu, ada hikmah yang bisa aku petik dari penundaan/kegagalan rencana tersebut.

Setiap manusia bisa merencanakan apapun, baik yang berkaitan dengan bisnisnya, studinya, ataupun jenis kegiatan lainnya. Dari sisi manajemen, perencanaan secara sederhana bisa didefinisikan sebagai pengambilkan keputusan pada saat ini mengenai tindakan-tindakan yang akan dilakukan pada saat mendatang. Definisi yang lebih lengkap adalah bahwa perencanaan itu adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan, fungsi-fungsi lain seperti pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan, tidak akan dapat berjalan dengan baik.

Sebagian orang mengatakan, adanya perencanaan yang baik itu sudah menunjukkan 50% dari keberhasilan. Berbagai argumentasi bisa kita ketengahkan mengenai hal ini, namun saya pribadi setuju bahwa perencanaan merupakan sesuatu yang penting dan harus dilakukan dengan baik.

Dari sisi tuntunan agama juga menunjukkan bahwa perencanaan itu perlu dilakukan dengan baik. Pada tahap awal kita perlu memperjelas tujuan yang ingin kita raih yang selanjutnya akan kita tuangkan dalam perencanaan. Dalam konteks ini lah kita mengenal adanya terminologi niat. Ada sebuah hadits yang memberikan tuntunan tentang niat ini, yaitu:

“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya”. (HSR. Bukhary-Muslim dari ‘Umar bin Khoththob radhiallahu ‘anhu).

Dalam persepsi saya, manusia yang masih dipenuhi dengan kelemahan dan kealpaan, hadits di atas menjelaskan beberapa hal, yaitu:

1)        “Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya”

“amalan” dalam konteks individu merupakan tindakan yang dilakukan oleh manusia, sedangkan dalam konteks manajemen merupakan fungsi-fungsi dari manajemen yaitu pengorganisasian (organizing), pengarahan (actuating), dan pengontrolan (controlling). Tindakan yang dilakukan oleh individu maupun fungsi-fungsi manajemen tersebut “hanyalah tergantung” atau tidak akan dapat berjalan dengan baik tanpa adanya perencanaan yang baik (niat). Dalam konteks individu, “niat” tersebut harus diluruskan atau disesuaikan dengan syariat, sedangkan dalam konteks manajemen, “niat” tersebut harus dirumuskan dengan jelas sehingga dapat disusun dalam suatu perencanaan yang baik.

2)        “setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan”

akan mendapatkan” menunjukkan tujuan dari individu maupun organisasi. Apapun tujuan dari individu maupun organisasi, tujuan tersebut akan tercapai apabila ada perencanaan (niat) yang baik, dan dilaksanakan (amalan) dengan sungguh-sungguh.

Dalam hadits lain lebih tegas lagi dinyatakan tentang perencanaan ini, yaitu hadits berikut ini:

”Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melakukan sesuatu pekerjaan, dilakukan secara Itqan (tepat, terarah, jelas dan tuntas).” (HR. Thabrani).

Setiap individu maupun organisasi tidak akan dapat melaksanakan kegiatan apapun secara tepat, terarah dan jelas tanpa adanya perencanaan yang disusun dengan baik. Setelah tujuan dirumuskan dengan jelas dan dibuat suatu perencanaan yang baik, maka tindakan-tindakan yang dilakukan berdasarkan perencanaan tersebut harus dilakukan dengan secara sungguh-sungguh dan tuntas. Tuntas berarti bahwa kegiatan tersebut harus dikerjakan sampai selesai.

Mengenai pentingnya melaksanakan kegiatan/pekerjaan secara sungguh-sungguh telah dinyatakan dalam hadits: “Allah SWT mewajibkan kepada kita untuk berlaku ihsan dalam segala sesuatu.” (HR Muslim). Kata “ihsan‘ tersebut bermakna ‘”melakukan sesuatu secara maksimal dan optimal”.

Ada beberapa manfaat yang bisa kita ambil apabila kita melakukan perencanaan dengan baik, yaitu:

1)        Tujuan bisa dirumuskan dengan jelas yang memungkinkan kita untuk membuat indikator keberhasilan dari pencapaian tujuan tersebut.

2)        Dapat dipilih langkah/tindakan terbaik dari berbagai alternatif pilihan langkah/tindakan yang bisa diidentifikasi. Langkah/tindakan terbaik tersebut tentunya akan lebih efisien dan efektif dibandingkan dengan langkah/tindakan lainnya.

3)        Evaluasi bisa dilakukan dengan baik sehingga bisa dilakukan perbaikan-perbaikan metode/strategi yang sudah dilaksanakan.

4)        Terhindar dari sikap keragu-raguan dalam melaksanakan langkah/tindakan yang akan diambil. Dalam kaitannya dengan sikap keragu-raguan ini, Rasulullah SAW bersabda: “Tinggalkan oleh engkau perbuatan yang meragukan, menuju perbuatan yang tidak meragukan.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i).

One response to “Pentingkah sebuah rencana (niat) yang baik?

  1. Tolong disertai tulisan arab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s