Tetaplah berkarya dan bersyukur

Hari ini, 13 September 2011, mulai aktif kembali kegiatan belajar mengajar. Ada dua fenomena yang menarik yang berkaitan dengan hari ini. Fenomena menarik yang pertama adalah tanggal 13. Sebagian orang mempunyai kepercayaan (bahkan sebagian diantaranya sudah merupakan keyakinan) bahwa angka 13 adalah angka sial, sehingga mereka seringkali mengkaitkan musibah yang terjadi dengan angka tersebut, atau membatalkan niat untuk melakukan sesuatu karena angka tersebut.

Sebagian orang mengkaitkan kemalangan yang diderita oleh dirinya maupun oleh orang lain karena kejadian tersebut terjadi pada tanggal 13, karena mereka menempati kamar nomor 13, karena mereka duduk pada kursi nomor 13, dan masih banyak lagi anggapan seperti itu. Sebagian orang lagi membatalkan rencana kepergian mereka karena menempati kursi nomor 13, atau mengurungkan niat untuk menghadiri undangan karena dilaksanakan tanggal 13.

Orang-orang yang memiliki ketakutan yang berlebihan terhadap angka 13 disebut sebagai Triskaidekaphobia. Ketakutan ini pada akhirnya membuat orang mempercayai bahwa apa yang akan terjadi pada diri mereka ditentukan oleh angka tersebut. Mereka yakin bahwa keberuntungan dan ketidakberuntungan mereka ditentukan oleh angka; juga oleh kejadian lain, misalnya kejatuhan cicak. Jadi pada akhirnya mereka menyandarkan diri mereka pada angka maupun pada makhluk-Nya.

Nabi SAW melarang sikap yang demikian, sebagaimana disabdakan: “Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (menganggap sial dengan sesuatu), tidak ada kesialan dengan keberadaan burung hantu dan tidak ada pula kesialan bulan Shafar” (HR. Bukhari dan Muslim).

Manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan-Nya seharusnya hanya menyandarkan diri mereka kepada Sang Maha Penciptanya, karena semua yang terjadi baik keberuntungan maupun ketidakberuntungan semuanya atas kehendak-Nya.

Allah berfirman: “Jika Allah menimpakan kepadamu kemudaratan maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia dan bila Dia menghendaki kebaikan bagimu maka tidak ada yang dapat menolak keutamaan-Nya” (Yunus: 107).

Juga sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW: “Seandainya umat berkumpul untuk memberikan kemanfaatan bagimu dengan sesuatu niscaya mereka tidak dapat memberikan kemanfaatan bagimu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan sebaliknya, jika mereka semuanya berkumpul untuk memudaratkanmu dengan sesuatu niscaya mereka tidak dapat menimpakan kemudaratan tersebut kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran-lembaran (catatan takdir)” (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Asy-Syaikh Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Al-Misykat no. 5302, pent.).

Fenomena yang kedua adalah cuaca mendung dan hawa dingin pada pagi ini. Dua kondisi yang berpotensi membuat kita malas untuk beraktivitas, membuat kita enggan untuk menyingkap selimut dan beranjak dari tempat tidur, dan merasa lebih nyaman diam di tempat tidur berselimutkan kehangatan.

Sifat malas membuat kita seringkali menunda pekerjaan bahkan meninggalkannya. Sifat malas membuat kita tidak memanfaatkan karunia berupa kesehatan badan maupun akal yang sudah dikaruniakan ke kita. Sifat malas membuat kita jauh dari rasa mensyukuri atas semua nikmat yang sudah kita terima. Pada akhirnya, sifat malas membuat kita tidak bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, juga menjauhkan diri kita dari golongan orang-orang yang bersyukur.

Nabi SAW bersabda: “Allah SWT mencela sikap lemah, tidak bersungguh-sungguh, tetapi kamu harus memiliki sikap cerdas dan cekatan, namun jika kamu tetap terkalahkan oleh suatu perkara, maka kamu berucap ‘cukuplah Allah menjadi penolongku, dan Allah sebaik-baik pelindung” (HR Abu Dawud).

Untuk itu kita harus mencegah diri kita dari rasa malas, dan memanjatkan doa sebagaimana sabda Nabi SAW:  “Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian)” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706).

Dengan kekuatan doa yang kita panjatkan, dilanjutkan dengan ikhtiar yang bersungguh-sungguh, dan dilandasi dengan niat untuk beribadah kepada-Nya, akan membuat kita bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, juga termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur. Insya Allah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s