Dosen, lebih pintarkah?

Benarkah dosen lebih pintar daripada mahasiswa? Pertanyaan ini rasanya sangat menggelitik dan sepertinya merupakan sebuah pertanyaan yang sederhana, namun bila kita mau mencoba merenung sejenak dan menelaah jawabannya, sepertinya ini bukan lagi merupakan sebuah pertanyaan yang sederhana. Jawaban dari pertanyaan ini bisa dilihat dari dua sisi ditinjau dari interaksi dosen dan mahasiswa, yaitu sisi dosen dan sisi mahasiswa.

Jika dilihat dari sisi dosen, mungkin sebagian besar dengan cepat akan menjawab “ya”, dan sebagian lagi membutuhkan waktu yang relatif agak lebih lama untuk menjawab “ya”. Rasanya sedikit atau mungkin tidak ada yang akan menjawab “tidak”. Rasanya wajar jika sebagian besar menjawab “ya” dan sedikit atau bahkan mungkin tidak ada yang menjawab “tidak”, karena pertanyaan yang diajukan dan jawabannya berkaitan dengan citra dan harga diri, ego, serta kebanggaan terhadap profesi.

Jika dilihat dari sisi mahasiswa, jawaban dari pertanyaan itu bisa “ya” dan bisa “tidak” tergantung pada proses pemaparan diri dosen terhadap mahasiswa, baik pada saat proses perkuliahan di kelas, maupun pada saat proses bimbingan dan konsultasi. Proses pemaparan diri ini tentunya erat kaitannya dengan beberapa faktor, misalnya penguasaan materi, kemampuan dalam memahami karakter mahasiswa, dan empati. Mungkin kesemuanya itu bisa disederhanakan, bahwa seorang dosen sebaiknya mempunyai kemampuan untuk menyampaikan materi yang sulit dengan bahasa yang sederhana yang bisa dimengerti dan dipahami oleh mahasiswa. Sebaliknya, jangan sampai seorang dosen menyampaikan materi yang tidak sulit namun justru pada akhirnya sulit dipahami oleh mahasiswa.  Jawaban “ya” dari mahasiswa pun bisa jadi mengandung dua kemungkinan, pertama mahasiswa menjawab “ya” secara jujur, dan kedua mahasiswa menjawab “ya” karena ada unsur segan atau mungkin justru karena ada kekuatiran yang berkaitan dengan nilai mata kuliah atau karena dosen yang bersangkutan sekaligus merupakan pejabat.

Kembali kepada pertanyaan awal, benarkah dosen lebih pintar dari mahasiswa? Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang menjebak dan tidak adil karena membandingkan dua kondisi yang berbeda. Satu hal yang pasti yang membedakan antara dosen dengan mahasiswa adalah bahwa dosen mempunyai keuntungan dalam hal waktu karena dosen telah berkesempatan mempelajari materi yang diampunya dalam rentang waktu sekian lama. Bahkan kadang secara berkelakar ada yang mengatakan bahwa dosen mempunyai keuntungan waktu satu hari untuk mempelajari materi yang akan disampaikan pada keesokan harinya.

Jadi jawaban “ya” maupun “tidak” rasanya menjadi tidak penting lagi karena ada beberapa hal yang sebenarnya lebih penting dari itu. Seorang dosen sebaiknya jangan menganggap mahasiswa sebagai anak kecil yang cuma bisa disuapi, cuma bisa menerima dan tidak mempunyai nalar, karena pada hakikatnya mahasiswa itu adalah salah satu kaum intelektual yang mempunyai daya nalar dan logika.

Seorang dosen sebaiknya menghindari mengklaim dirinya sebagai orang yang paling pintar karena sikap yang demikian akan menutup ruang untuk terjadinya proses diskusi argumentatif antara dosen dan mahasiswa. Bahkan mungkin dengan sikap yang demikian akan membuat dosen tidak bisa menerima pendapat lain dari mahasiswa, dan pada akhirnya akan memasukkan nama mahasiswa dalam daftar hitam di memori nya. Mungkin kata yang pas untuk ini adalah “neuteuli (Sunda)” atau “niteni (Jawa)”.

Seorang dosen sebaiknya menghindarkan dirinya dari arogansi keilmuan hingga mengklaim dirinya sebagai ahli/pakar dalam bidang keilmuan tertentu. Mungkin kita pernah mendengar ada dosen yang dengan lantang bilang “saya ahlinya!”. Seharusnya sebutan ahli/pakar itu dilekatkan oleh orang lain yang juga ahli/pakar dalam keilmuan tertentu, dan bukan oleh dirinya sendiri maupun kelompoknya. Arogansi keilmuan ini akan berdampak pada sikap yang meremehkan orang lain, dan tidak ada satu pun kebenaran pada orang lain karena kebenaran hanya ada pada dirinya. Seharusnya kita sadar bahwa tidak ada kebenaran mutlak di dalam ilmu karena ilmu itu lahir atas dasar logika dan nalar dari manusia yang suatu saat bisa berubah sesuai dengan perkembangan penalaran dan logika manusia. Ada ungkapan yang bagus dari cerita silat “di atas langit masih ada langit”, cuma kadang orang menganggap bahwa dirinya lah langit yang tertinggi.

Seorang dosen sebaiknya menghindarkan dirinya dari arogansi jabatan yang menjalar ke bidang keilmuan tertentu. Alangkah naifnya jika dosen yang menduduki jabatan kemudian mendominasi kebenaran atas ilmu hanya karena dia seorang pejabat. Seharusnya jabatan digunakan untuk mengembangkan kondisi yang kondusif bagi berkembangnya ilmu, bukan digunakan untuk mendominasi kebenaran atas ilmu.

Seorang dosen sebaiknya jangan sampai melacurkan dirinya hanya karena ambisi dan obsesi tertentu, sehingga membuang jauh-jauh nilai-nilai filsafat dan etika ilmiah. Seorang dosen seharusnya mengabdikan dirinya pada pengembangan ilmu pengetahuan dan bukan mengabdikan dirinya pada kepentingan tertentu yang jauh dari etika keilmuan.

Seorang dosen seharusnya bisa membangun karakter mahasiswa yang dilandasi dengan sikap disiplin, kepedulian, dan tanggung jawab sesuai dengan bidang keilmuannya. Selain itu, seorang dosen juga seharusnya mampu membentuk pola pikir mahasiswa yang rasional, sistematis dan analitis; dan bukannya mengebiri daya nalar mahasiswa yang akan membuat mahasiswa kehilangan makna dari “maha” nya.

Seorang dosen sebaiknya juga menghindarkan diri dari bertindak represif dan intimidatif terhadap mahasiswa, karena mahasiswa adalah kaum terpelajar yang sebenarnya bisa diajak berargumentasi dalam mencari solusi terbaik dari setiap permasalahan yang ada. Tindakan represif dan intimidatif di satu sisi seakan menafikan daya nalar dan logika mahasiswa, dan di sisi lain seakan menunjukkan ketidakmampuan dosen di dalam berargumentasi dengan mahasiswa.

Pada akhirnya, jika ada dosen yang berkata bahwa dia lebih pintar dari mahasiswa, itu adalah hak pribadinya. Hanya, alangkah naifnya jika kemudian di ruang dosen ada dosen yang menertawakan ketidakmampuan mahasiswa untuk berargumentasi dalam kegiatan akademik setelah kegiatan akademik itu selesai. Satu hal yang mungkin terlupakan, ketidakmampuan mahasiswa berargumentasi itu pada hakikatnya salah satunya adalah karena faktor dosen juga. Wallahu a’lam bishowab…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s