Sebuah Pembelajaran

Sebelum kita ke cerita, ada baiknya saya perkenalkan dulu para pelaku utama pada cerita ini. Ada lima pelaku utama pada cerita ini, yaitu Agus, Ello, Dar, Mur, dan Arif. Biar pembaca sedikit punya gambaran mengenai para pelaku, baiklah saya kasih penjelasan sedikit mengenai mereka:

Agus Yuniawan (Agus). Agus ini asalnya dari Cepu, Jawa Tengah. Orangnya tinggi, agak hitam, rambutnya panjang sebahu, dan berbadan kurus. Saat itu dia dipercaya teman-temannya menjadi Ketua Komti (Komisariat Tingkat) Koas A, sederhananya dia menjadi ketua kelasnya Komti A. Dia punya hobi main gitar, kasih aja gitar ke dia maka dia akan anteng berjam-jam lamanya meskipun ga jelas dia nyanyi apa hehe..

Mohammad Khoeron (Ello). Dia asli Bogor, namun jarang tidur di rumahnya sendiri, mungkin lebih suka tidur di pos ronda kali hehe. Orangnya tidak terlalu tinggi (ga enak mau menyebut pendek wkwkwk…), kecil, kulitnya agak putih, agak cerewet untuk ukuran cowo (piss bro…), dan dia suka banget berkelana mencari ilmu kebatinan hehehe, eeeeehhh keceplosan…maksudnya ilmu agama.

Darsono (Dar). Tokoh yang satu ini asalnya dari Magetan, Jawa Timur. Orangnya lumayan tinggi, kurus, kulit agak putih, rada-rada sosialis (piss bro hehehe…), pinter (dilihat dari koleksi bukunya yang banyak dan tebal-tebal hehehe…), rada-rada aneh sifatnya bagi orang-orang yang belum mengenal dia dengan baik, dan satu kesukaan dia yaitu mengkoleksi National Geographic.

Murwatyo Sulistyo (Mur). Nah, tokoh kita yang satu ini asalnya dari Blitar, Jawa Timur. Orangnya lumayan tinggi, agak gemuk, kulitnya agak hitam, lumayan mancung hehe… Orang ini punya intuisi bisnis yang bagus, dan saat itu dia mempunyai usaha sablon.

Arif Rubianto (Arif). Tokoh sentral kita ini asalnya dari Buah Batu, Bandung. Orangnya tinggi, badannya lumayan atletis, namun kulitnya yang paling hitam diantara kami hehe.. Saat itu dia lagi merana karena cinta. Jadi tidak aneh kalau hobinya tidur seharian sampai menjelang maghrib baru bangun, terus beli gorengan sebungkus penuh dan dimakan sendiri ga nawarin ke yang lain hahaha… Setelah itu, dia siap-siap main gaple sampai menjelang subuh, habis subuh tidur lagi seharian. Sebenarnya dia aktif di organisasi kemahasiswaan dan punya potensi untuk dikembangkan namun cinta sudah merubah dia hingga seperti itu. Satu lagi catatan tentang dia, dia punya hobi naik gunung. Kalau lagi pengen naik gunung, saat kami lagi asyik-asyiknya ngobrol setelah sholat Isya, dia langsung berkemas-kemas dan pergi sendiri naik gunung. Entah gunung apa yang dia naiki hehe…piss bro..

Cerita ini terjadi saat mereka masih kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB.  Mungkin perlu juga saya jelaskan mengenai tahapan perkuliahan di sana. Ada dua tahap pendidikan di FKH IPB, yaitu pendidikan sarjana dan pendidikan profesi. Tingkat sarjana dilalui selama 8 semester (termasuk KKN) dan apabila lulus maka berhak mengikuti wisuda dan berhak menyandang gelar SKH (Sarjana Kedokteran Hewan). Bila mahasiswa ingin melanjutkan pendidikan, maka dia dapat mengambil pendidikan profesi dokter hewan. Pada tahap ini mahasiswa mengikuti koas (koasistensi) pada semua laboratorium yang ada di FKH, kemudian mengikuti koasistensi daerah yaitu magang pada unit-unit usaha peternakan, dan terakhir membuat skripsi. Pada tahap ini biasanya mahasiswa juga ikut mobil klinik hewan keliling. Terakhir mahasiswa mengikuti sidang komprehensif, dan apabila lulus maka dia berhak mengikuti wisuda dan berhak menyandang gelar dokter hewan. Pada tahap koasistensi ini lah semua pelaku berada, kecuali Arif yang masih tingkat IV pada saat itu.

Rasanya perkenalan para pelaku dan latar cerita sudah tersampaikan semua, sekarang mari kita menuju ke TKP…

Saat itu sedang berlangsung penjaringan calon ketua Senat Mahasiswa (Sema) FKH IPB. Panitia penjaringan sudah dibentuk oleh Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) dan mulai melaksanakan tugasnya untuk menjaring calon-calon ketua Sema dari berbagai tingkat. Sangat disayangkan saya lupa nama ketua panitia penjaringan calon saat itu, sebut saja Mr. X.

Selama proses penjaringan calon tersebut, mereka mendapat informasi dari Dar tentang adanya upaya intervensi dari organisasi mahasiswa ekstra kampus untuk memenangkan calonnya dalam pemilihan ketua Sema. Secara umum mereka menganggap wajar adanya intervensi tersebut, namun demikian mereka akhirnya menyimpulkan perlu adanya pembelajaran kepada mahasiswa untuk memilih calonnya sendiri yang bisa mewakili harapan-harapan mereka, tanpa adanya intervensi tersebut. Pembaca tentu bisa menebak bahwa maksud ‘mereka” di sini tentunya tanpa Arif, karena dia masih asyik dengan hobi molornya hehe…

Setelah berdiskusi banyak, akhirnya mereka sepakat untuk mengajukan calon mereka sendiri, dan berdasarkan berbagai pertimbangan, calon yang menurut mereka mempunyai kompetensi dan kualifikasi pada saat itu adalah Arif. Akhirnya mereka secara khusus menunjuk Agus untuk bicara dengan Arif.

Saat itu, malam setelah Arif terbangun dari tidur panjangnya, Agus mendekati Arif dan mencoba bicara dari hati ke hati.

“Rif… kalau kamu tidur terus seperti ini, kamu mau jadi apa? Apa yang kamu cari?”, kata Agus.

Arif menjawab, “Aku tahu, namun rasanya aku masih belum bisa keluar dari kehidupan seperti ini”.

Agus bilang, “Mungkin saat ini kehidupan seperti ini nyaman buat kamu, namun aku tahu kamu sendiri sebenarnya tersiksa menjalani hidup seperti ini. Sebenarnya kamu punya potensi, sayang kalau potensi seperti itu tidak kamu manfaatkan sebaik-baiknya. Tunjukkan bahwa kamu bisa berguna bagi orang lain dengan potensi yang ada di diri kamu!”

Selanjutnya Agus menceritakan tentang proses penjaringan calon ketua Sema yang sedang berlangsung, dan berusaha meyakinkan Arif bahwa dia punya potensi, kompetensi, dan kualifikasi untuk menjadi ketua Sema. Agus juga member gambaran bahwa kalau Arif menjadi ketua Sema maka dia akan bisa mengabdikan potensinya untuk kepentingan banyak orang, dan terutama dia bisa keluar dari lingkaran gaya hidupnya. Setelah berbicara panjang lebar, jawaban yang keluar dari mulut Arif adalah, “Aku belum siap untuk itu!”.

Agus pun melaporkan hasil pembicaraannya dari hati ke hati kepada temannya yang lain. Mereka sadar bahwa mereka cuma bisa memberi masukan dan saran, namun keputusan ada di tangan Arif. Mereka prihatin dengan gaya hidup Arif yang tenggelam dalam nestapa asmara, dan mereka merasa bahwa mereka punya tanggung jawab moral untuk “menyadarkan” Arif.

Panitia penjaringan ketua Sema terus melaksanakan tugasnya menjaring calon-calon ketua Sema dari semua tingkat. Informasi terakhir bahwa panitia sudah berhasil menjaring calon sebanyak 10 orang dan akan dibawa ke sidang pleno BPM untuk disahkan menjadi calon ketua Sema beberapa hari kemudian.

Informasi ini sampai kepada mereka, dan mereka pun kembali berembug. Kembali Agus ditugaskan untuk bicara dengan Arif. Sore itu, Agus membangunkan Arif dari tidurnya dan bicara dengan tegas, “Rif..silakan kalau kamu mau tetap seperti ini. Semua orang punya pilihan, kalau kamu tetap memilih hidup seperti ini silakan. Tapi kalau kamu mau merubah hidup kamu, kami siap membantu. Pilihan ada di kamu. Sore ini juga kami harus terima keputusan kamu. Apapun pilihan kamu akan kami hargai”. Dan Agus pun meninggalkan Arif untuk berpikir.

Arif pun duduk terdiam di bibir tempat tidur. Sepertinya dia sedang berusaha keras untuk melawan gaya hidup yang sudah dia jalani sekian lama. Dia berpikir keras, dan bertarung melawan dirinya sendiri untuk memilih keputusan yang terbaik buatnya.

Setelah sekian lama, akhirnya dia mengambil keputusan dan menghampiri Agus. Dia berkata kepada Agus. “Aku siap untuk dicalonkan menjadi ketua Sema. Namun apa yang harus aku lakukan?”.

Agus menjawab, “keputusan kamu ini sudah cukup bagi kami, biar kami yang melaksanakan langkah selanjutnya, kamu tunggu saja kabar dari kami tentang apa yang harus kamu siapkan dan lakukan”.

Agus pun menyampaikan keputusan Arif ini kepada teman-temannya. Mereka bahagia mendengar keputusan Arif, bukan masalah keputusan Arif untuk mencalonkan diri menjadi ketua Sema, namun mereka bahagia karena sahabat mereka sudah punya keinginan untuk berubah.

Mereka yakin bisa mengajukan Arif sebagai salah satu calon ketua Sema. Meskipun penjaringan calon sudah selesai dan akan ditetapkan oleh BPM beberapa hari kemudian, namun mereka melihat ada celah untuk bisa mengajukan Arif. Celah itu adalah kelalaian panitia penjaringan untuk menjaring calon ketua Sema dari tingkat Koas, baik Koas A maupun Koas B. Agus pun menghubungi ketua panitia penjaringan dan mempertanyakan mengapa panitia tidak melakukan penjaringan calon ketua Sema dari Koas. Setelah beradu argumentasi, akhirnya ada peluang untuk mengajukan Arif sebagai calon ketua Sema.

Agus menyampaikan informasi ini kepada teman-temannya. Mereka pun akhirnya menyusun rencana, dan malam itu juga mereka menyebar untuk mencari tanda tangan dukungan pencalonan Arif sebagai calon ketua Sema yang diajukan oleh Koas.

Setelah mereka mendapat tanda tangan dukungan pencalonan Arif sebagai calon ketua Sema dari Koas, masih ada satu lagi masalah yang harus dihadapi. Masalah itu adalah bagaimana memasukkan nama Arif ke dalam daftar calon ketua Sema yang akan ditetapkan oleh BPM. Kembali mereka mendiskusikan strategi, dan akhirnya mereka mendapat strategi terbaik. Salah satu anggota BPM (Dodi Mulyadi) pernah tinggal serumah dengan mereka, dan dia mau untuk mendukung rencana mereka dengan syarat harus ada dukungan dari anggota BPM yang lain.

Dan tibalah saat sidang pleno BPM untuk menetapkan calon ketua Sema. Pada saat itu, anggota BPM sudah berkumpul dan siap untuk melaksanakan sidang. Sebagian mahasiswa Koas sudah berkumpul di luar ruang sidang untuk menyampaikan aspirasi mereka. Pada saat sidang sudah dimulai, Agus pun mengetuk pintu dan langsung masuk ke ruang sidang untuk menyampaikan aspirasi dari mahasiswa Koas. Sidang saat itu langsung terhenti, dan salah satu anggota BPM yaitu Mohamad Hosen (Alm., semoga beliau diterima disisi-Nya, amin) menarik Agus keluar dari ruangan sidang dan berbicara dengannya. Sambil tersenyum Hosen bilang ke Agus akan membantu meloloskan aspirasi itu.

Hosen pun masuk kembali ke ruang sidang dan kembali mereka melanjutkan sidang, sementara mahasiswa Koas masih tetap di luar menunggu hasil sidang. Akhirnya Hosen keluar dan menyampaikan bahwa aspirasi kami bisa diterima dan Arif bisa menjadi salah satu calon ketua Sema. Itu lah pertama kalinya dalam sejarah penjaringan calon ketua Sema di FKH IPB adanya calon ke-11.

Setelah ada hasil positif tersebut, mereka langsung pulang ke rumah untuk memberitahu Arif dan merumuskan langkah selanjutnya. Di sini lah Mur mulai banyak berperan, sebagai pengusaha sablon dia bilang akan menyediakan atribut untuk mengkampanyekan Arif. Kami pun membantu Mur membuat selebaran dukungan untuk Arif. Sekitar jam 11 malam, mereka ke kampus dan menempelkan selebaran dukungan itu pada semua tempat strategis di kampus, termasuk menempelkan selebaran itu pada tali yang mereka pasang memanjang di antara pohon-pohon yang ada di kampus. Mungkin mereka lah yang pertama kali mempelopori kampanye calon ketua Sema seperti itu.

Paginya mereka berangkat ke kampus seperti biasa, dan saat itu kampus heboh dengan adanya selebaran-selebaran seperti itu karena kampus hampir terisi penuh oleh selebaran dukungan. Selebaran itu bahkan bisa mengalahkan pengumuman calon ketua Sema yang ditempelkan oleh panitia di papan pengumuman.

Satu hari kemudian, saat mereka datang ke kampus, rupanya calon lain juga memasang atribut kampanye di kampus. Makin meriah lah kampus oleh banyaknya atribut kampanye calon.

Mereka pun saat sudah pulang kuliah, kembali merumuskan strategi untuk lebih menonjolkan Arif sebagai calon ketua Sema. Mereka kembali membuat atribut kampanye, dan Mur tetap sebagai sponsor tunggalnya.

Malamnya mereka ngobrol santai sambil menunggu jam 11 untuk memasang atribut kampanye lagi di kampus. Saat itu Dar bilang bahwa dia diundang ke markas salah satu organisasi mahasiswa ekstra kampus dan dia “diinterogasi’ mengenai keterlibatannya pada pencalonan Arif. Mereka berembug dan akhirnya memutuskan untuk tidak bereaksi terhadap aksi pemanggilan Dar tersebut, dan pemasangan atribut kampanye akan dilakukan lebih dari jam 11 untuk menghindari pertemuan dengan tim lain yang akan memasang atribut kampanye juga di kampus. Akhirnya mereka memasang atribut kampanye pada jam 2 dinihari…

Mereka juga membuat kartu nama yang isinya ajakan untuk mendukung Arif sebagai calon ketua Sema dan memilihnya pada saat pemilihan nanti, tentunya Mur masih sebagai sponsor tunggalnya.

Dan tahap presentasi program dari calon ketua Sema sebagai rangkaian proses pemilihan pun dilaksanakan. Mereka berdiri di pintu gedung tempat presentasi berlangsung dan membagikan kartu nama dukungan calon untuk Arif kepada mahasiswa yang akan mengikuti acara tersebut. Acara itu pun berlangsung dengan sukses, aman, dan terkendali…

Saat pemilihan pun tiba, dan akhirnya Arif terpilih sebagai ketua Sema…

Pelajaran yang bisa ditarik dari cerita ini adalah bahwa orang bisa merubah dirinya kalau mempunyai kemauan yang kuat dan mau berusaha dengan keras untuk mewujudkannya. Selain itu, sekelompok kecil orang bisa membuat perubahan kalau mempunyai kesepahaman dan soliditas dalam pikiran, ucapan dan tindakan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s